Allah

TOP NEWS

Semoga bisa menjadi blog referensi dan sumber bacaan yang menambah wawasan kita. Jangan sungkan untuk koment ya ^^,

Saturday, 6 July 2013

BERDOA HANYA KE ALLAH 'AZZA WA JALLA


BERDOA HANYA KE ALLAH 'AZZA WA JALLA





Bismillah. mamen, berdoa adalah salah satu bentuk ibadah. Segala bentuk ibadah hanyalah untuk Allah semata. Berdoa juga hanya kepada Allah semata. Namun, dalam masyarakat kita ada yang masih saja berdoa kepada selain Allah. Entah itu kepada Nabi, orang shaleh yang mereka anggap wali Allah, syekh dan sebagainya. Mereka berdalih jika hal itu hanya sebagai perantara doa mereka kepada Allah saja. Dengan maksud untuk mendapatkan syafaat nanti, mereka berdoa kepada selain Allah. Mereka mengira apa yang mereka ibadahi / berdoa kepadanya itu mampu memberikan pertolongan disisi Allah. Entah karena kesholihan mereka, atau hanya cerita dari mulut ke mulut mengenai karomah yang ada pada mereka. Ketahuilah wahai saudaraku, syafa'at hanyalah milik Allah Azzawajalla. Berdoa saja kepadaNya.

Allah berfirman :
وَقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ 

“Dan berilah peringatan dengan (wahyu) itu terhadap orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Rabb mereka (pada hari kiamat), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafa’at pun, (kecuali Allah).” [Al-An’âm: 51]

Bahwasanya, ketika kaum musyrikin membenarkan perbuatan syirik yang mereka berada di atas (perbuatan) tersebut, seperti berdoa kepada malaikat, para nabi dan para wali, yang mereka mengatakan, “Kami mengetahui bahwa mereka adalah makhluk, tetapi mereka memiliki kedudukan di sisi Allah, sehingga kami menginginkan dari mereka agar mereka memberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Hal tersebut betul-betul merupakan kesyirikan yang nyata yang dilarang oleh Allah.

::Syafa’at hanya Milik Allah::
وَقَوْلِهِ تَعَالَى: قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

Firman (Allah) Ta’âlâ, “Katakanlah, ‘Hanya hak Allah-lah, syafa’at itu seluruhnya.’.” [Az-Zumar: 44]
وَقَوْلِهِ: مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Firman-Nya, “Tiada seorang pun yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya, kecuali dengan seizin-Nya.” [Al-Baqarah: 255]

Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang yang bergantung kepada para wali dan orang shalih untuk mencari syafa’at dari mereka, bahwa mereka yang kalian seru itu tidak memiliki syafa’at sedikitpun. Sesungguhnya syafa’at itu semuanya hanya milik Allah, dan tidak ada seorang pun yang bisa memberi syafa’at kepada seseorang pun kecuali dengan izin dari Allah. Juga tidak ada seorang pun yang bisa berbicara pada hari kiamat kecuali mereka yang diizinkan oleh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ untuk berbicara.

Kedua ayat tersebut merupakan bantahan terhadap kaum musyrikin yang menjadikan selain Allah sebagai pemberi syafa’at, baik dari kalangan malaikat, para nabi, maupun patung-patung orang shalih. Mereka (orang-orang musyrikin) menyangka bahwa mereka (selain Allah) memiliki/menguasai syafa’at dan mampu memberi syafa’at di sisi Allah Subhânahu wa Ta’âlâ tanpa seizin Allah.

::Keadaan Syafa’at Para Malaikat::
وَقَوْلِهِ تَعَالَى: وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى 

Firman (Allah) Ta’âlâ, “Dan betapa banyak malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan (untuk memberi syafa’at) bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan ridhai.” [An-Najm: 26]

Allah Ta’âlâ mengabarkan bahwa banyak dari malaikat dengan kedudukannya di sisi Allah, tidak berguna sedikitpun syafa’at mereka pada seseorang dan tidak pula bermanfaat, kecuali apabila Allah mengizinkan bagi mereka untuk memberi syafa’at bagi siapa saja yang Dia kehendaki syafa’at itu baginya, dari kalangan hamba-hamba-Nya.

Orang yang diberi syafa’at pun mestilah dari kalangan mereka yang ucapan dan perbuatannya diridhai oleh Allah, yaitu bahwa dia harus selamat dari kesyirikan, baik sedikit maupun banyak. Maka kalau demikian keadaannya bagi para malaikat, tentu (syafa’at) selain mereka lebih pantas (tidak berguna dan tidak bermanfaat). Bahwasanya pada ayat ini ada bantahan terhadap kaum musyrikin yang meminta syafa’at kepada malaikat dan yang selainnya dari para makhluk.

::Pemutus Segala Akar Kesyirikan::
وَقَوْلِهِ تَعَالَى: قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ. وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ. وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ.

Firman (Allah) Ta’âlâ,
“Katakanlah, ‘Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai rabb) selain Allah. Mereka tidak memiliki kekuasaan seberat dzarrah pun di langit dan di bumi dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan langit dan bumi), serta sama sekali tiada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Maka, syafa’at tidaklah berguna di sisi-Nya, kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan untuk (memperoleh syafa’at) itu. Sehingga, apabila ketakutan dari hati mereka telah dihilangkan, mereka berkata, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar,’ dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’.”
[Saba`: 22-23]

Kalau mereka tidak memiliki kekuasaan secara mandiri, tidak menjadi sekutu bagi Allah dalam kekuasaan-Nya, juga tidak menjadi pembantu bagi Allah penguasa alam semesta serta tidak dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, maka batallah peribadahan kepada mereka dari selain Allah. Bahwa dalam kedua ayat tersebut terdapat bantahan terhadap kaum musyrikin yang bertaqarrub (dengan beribadah) kepada para wali, meminta syafa’at kepada mereka serta berdoa kepada mereka untuk mendapatkan manfaat dan menolak bahaya.

Jauhi berdoa kepada selain Allah mamen. Entah itu dengan alasan bertawasul dengan Nabi, malaikat, orang-orang shaleh dan sebagainya. Hal itu membuka pintu kehancuran mamen. Tawasul merupakan bagian dari dien ini, namun tidak pernah kita disyariatkan untuk bertawasul kepada orang yang sudah meninggal, malaikat, dan sebagainya. Tawasul yang disyariatkan hanyalah dalam 3 hal. 

1) Bertawasul dengan zat Allah yang Maha Suci, dengan nama-nama-Nya yang baik, dengan sifat-sifat-Nya, atau dengan perbuatan-Nya.
2) Bertawasul dengan amal shalih yang kita lakukan
3) Bertawasul dengan doa orang lain. 
Kita boleh didoakan oleh orang lain. Namun tidak boleh berdoa kepadanya. Misalkan ada syekh fulan, beliau orang shaleh, berilmu dan memiliki banyak keutamaan lainnya. Mungkin saja doa beliau lebih mustajab dibandingkan dengan doa kita. Karena mungkin beliau lebih terjaga dari makanan haram dan perkara bathil. Kita boleh meminta di doakan oleh beliau. Dengan cara kita bertemu dengan beliau dan menyampaikan keperluan kita untuk di doakan kepada Allah. Atau kita bisa saja menelepon beliau, atau menggunakan alat komunikasi lain, sehingga syekh fulan tahu perihal keperluan kita.

Berbeda dengan jika misalnya kita berdoa "Ya Syekh, tolong sampaikan doa ini kepada Allah" dan semisal dengan itu. Sedangkan syekh sendang berada ditempat lain, dan beliau tidak mengetahui perkara hajat doa kita. Hal itu berarti telah menyekutukan Allah dengan syekh itu. Syekh bukanlah maha mendengar doa mamen. Wallahua'lam

✔----------------------------------------------------------------------
Mamen yuk diLike ✔ Share ✔ Tag ✔ Comment ✔


0 comments: